Pdt. Poltak YP. Sibarani, Th.D.

Berbagai Alasan untuk Tidak Mengakui Dosa

Pdt. Poltak YP Sibarani, D.Th*

Pada tulisan saya sebelumnya, yang berjudul Realitas Pengampunan Atas Dosa Ma-nusia, dipaparkan secara seder-hana bahwa manusia adalah mak-hluk yang mampu untuk berbuat dosa. Manusia yang telah melaku-kan dosa namun yang tidak meng-akui bersedia mengakuinya akan dihukum, sementara manusia yang mengakui dosa-dosanya akan diampuni.

Pertanyaan yang dapat muncul sehubungan dengan hal ini adalah: “Mengapa ada orang yang tidak mau mengakui dosanya?” Menurut pengamatan saya, terdapat bebe-rapa alasan mengapa seseorang tidak mau mengakui dosa yang te-lah diperbuatnya. Pertama, sese-orang tidak mau mengakui dosa-nya karena tidak memahami makna dan

manfaat pengakuan dosa. Seseorang yang tidak mau me-ngakui dosanya tidak memahami betapa indahnya suasana di balik pengakuan dosa. Sesungguhnya, seseorang yang mau mengakui dosanya tidak akan pernah rugi, sebaliknya akan beruntung. Tidak pernah ada kerugian yang diakibat-kan oleh pengakuan dosa dan tidak ada sisi negatif di balik pengakuan dosa. Sesungguhnya, pengakuan dosa bukan hanya efektif untuk menyelesaikan dosa yang telah diperbuat, tetapi juga efektif un-tuk mengantisipasi agar dosa beri-kutnya jangan terjadi. Pengakuan dosa tidak hanya efektif untuk menghapuskan/menyelesaikan dosa masa lampau tetapi juga efek-tif untuk mengantisipasi supaya jangan terjadi lagi. Inilah yang dise-but sebagai ‘keuntungan ganda dari pengakuan dosa’. Sebaliknya, bila kita tidak mau mengakui dosa, maka kita akan menikmati kepahi-tan seumur hidup, bahkan kepa-hitan hidup yang kekal.

Kedua, seseorang tidak mau mengakui dosanya karena ia tidak mengakui keberadaan dosa; tidak mengakui bahwa dosa adalah sesuatu yang nyata (sin is a reality). Saya pernah berbicara de-ngan orang yang tidak mengakui bahwa dosa merupakan suatu hal yang nyata. Di sela-sela pembica-raan kami itu, ia berkata demikian: “Apa yang kamu anggap sebagai dosa bukanlah suatu perbuatan yang harus disesali apalagi harus diakui untuk diampuni. Bagi saya, katanya, setiap perbuatan adalah suatu pilihan yang membawa si pelaku ke dalam suatu perubahan. Perubahan tersebut adalah akibat wajar (konsekuensi logis) dari perbuatan sebelumnya. Setiap aksi akan menimbulkan reaksi, tidak perlu dibesar-besarkan. Kalau (memang) seseorang mela-kukan kesalahan, maka ia akan menanggung akibat dari kesalahannya itu. Itu bukan hukuman, melain-kan sebagai akibat (konse-kuensi), demikian pula se-baliknya, bila ia ber-buat benar.

Salah dan benar di sini adalah me-nurut kebebasan individu, bukan menurut orang lain. Setiap orang bebas melaku-kan sesuatu dan setiap orang be-bas juga menang-gung akibat dari sesuatu tersebut. Itulah hak asasi, dan itulah hidup. Oleh sebab itu, lanjutnya, kita tidak perlu melibat-kan pihak lain, ter-masuk Tuhan di dalam kesalahan itu. Jadi kalau saya berbuat salah, saya akan menang-gung akibat dari kesalahan saya. Logis dan otomatis. Karena itu buat apa saya mengakui dosa ke-pada Tuhan. Saya juga akan meng-hadapi konsekuensinya, bukan? Lagi pula, bagaimana Tuhan me-ngampuni kesalahan saya, apakah dengan cara membatalkan konse-kuensinya? Bila memang Tuhan membatalkan konsekuensinya, berarti Tuhan telah berbuat tidak adil. Jika demikian halnya, mengapa saya harus mengakui dosa?”

Pernyataan-pernyataan seperti di atas oleh seseorang tadi me-nunjukkan bahwa ia tidak mengakui dosa sebagai suatu keberadaan, sehingga wajar kalau dia tidak mau mengakui dosanya. Orang tersebut tidak mau mengakui dosanya ka-rena merasa percuma mengakui dosa, karena toh ia akan juga mengalami gan-jaran akibat per-buatannya itu. Saya mengata-kan kepadanya bahwa pengakuan dosa, pada umumnya, tidak menia-dakan konsekuensi, melainkan mengganti konsekuensi sebagai sesuatu yang tidak menakutkan karena konsekuensi tersebut akan dijadikan Tuhan sebagai pendidikan rohani kita. Namun, ada kalanya, Tuhan tidak akan memberikan kon-sekuensi itu, bukan karena ketidak-adilan-Nya, melainkan karena ke-murahan-Nya dan karena kemaha-kuasaan-Nya.

Oleh sebab itu, lebih baik bagi kita untuk mengakui dosa kita se-cara tulus, sekaligus bersedia me-nerima konsekuensinya (ganjaran/akibat yang ditimbulkannya), ka-rena konsekuensi yang dialami oleh setiap orang yang mengakui dosa-nya bukan lagi untuk menghancur-kannya melainkan untuk ‘mendidik’ dan ‘menjaganya’.

Apakah kita akan mengalami konsekuensi atau tidak, lebih baik tulus hati mengakui dan ber-sedia menerima konsekuensi/ganjaran. Sebab pengakuan dosa yang murni/lengkap itu adalah kalau kita mau menerima gan-jaran atau konsekuensinya, tulus, jantan istilahnya. Ada seorang yang berdoa be-gini, “Tuhan, kini saya sudah sadar bahwa semua hasil usaha dan bisnis saya ini saya peroleh bukan de-ngan menggunakan cara-cara yang baik. Usaha ini maju, saya ba-nyak uang dan saya jadi orang kaya, sesungguh-nya adalah akibat dari trik-trik eko-nomi saya yang ti-dak baik. Saya sudah banyak menipu orang lain, termasuk teman-teman saya yang baik terhadap saya. Saya melaku-kan banyak korupsi dan kolusi, berbuat jahat, dan segala macam cara telah saya halalkan supaya perusahaan ini terbangun. Kini, saya sudah sadar oh Tuhan. Ampunilah saya ini oh Tuhan. Saya  tidak akan ulangi oh Tuhan. Saya mohon ampun oh Tuhan. Tetapi Tuhan, ….. jangan hukum saya dengan cara membuat perusahaan ini bangkrut.”

Kalimat-kalimat pengakuan seperti di atas, menurut hemat saya, belum mengikuti atau belum sesuai dengan defenisi pengakuan dosa yang benar dan lengkap. Untuk itu, marilah kita belajar dari apa yang dikatakan Zakheus dalam Lukas 19. Zakheus dalam kisah ini merupakan contoh orang yang sportif. Ia berani berbuat, namun juga berani mengaku dan bertang-gung jawab. Ketika Kristus masuk ke rumahnya, orang-orang ber-kata: “Wah ngapain Yesus datang masuk ke rumah Zakheus? Za-kheus ‘kan orang yang tidak layak menerima kehadiran Yesus.” Lalu, apa yang diperbuat Zakheus? Apa-kah dia masuk dapur  ambil air pa-nas,  lalu menyiram mereka semua-nya? Tidak!

Apakah ia berkata: “Sentimen kalian, yah. Kalau Yesus mau masuk ke rumah saya, kalian mau apa?” Tidak! Dia tidak menanggapi orang banyak dengan mengata-kan semua itu, tetapi dengan ren-dah hati ia berkata: “Tuhan benar apa yang mereka katakan, aku orang berdosa. Buktinya adalah harta ini sebenarnya tidak pantas aku miliki, silakan ambil, saya siap menerima ganjarannya.”

Dengan demikian, Zakheus menunjukkan sportivitasnya. Ia memiliki kerendahan hati untuk mengakui berbagai kesalahan yang telah diperbuatnya. Ia juga memberikan kesempatan kepada berbagai pihak untuk menuntut-nya. Ia juga tidak memohon ‘pem-belaan’ Tuhan Yesus atas hal itu. Ia hanya mengakui dengan tulus apa yang telah diperbuatnya. Se-belum Zakheus bertemu dengan Tuhan Yesus, ia memang tidak menjadi contoh, namun selanjut-nya ia dapat dijadikan contoh dalam hal kerelaan untuk mengakui dosa-dosanya. Beberapa alasan lain yang membuat orang tidak ber-sedia untuk mengakui dosa-dosa-nya akan saya uraikan lebih lanjut dalam tulisan saya pada edisi selanjutnya.v

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: